Mengapa Pencarian Umum Melewati Literatur Primer Asia
Pencarian akademik umum tidak menemukan literatur primer Asia: mengapa CNKI, Garuda, Neliti, SINTA, VJOL, ThaiJO dan repositori institusi nasional absen, serta bagaimana sumber literatur sebaiknya dilapisi.
Titik buta
Pencarian akademik umum dibangun untuk satu dunia: jurnal berbahasa Inggris yang terindeks di basis data komersial. Google Scholar, Web of Science, dan Scopus tidak mengindeks CNKI, Wanfang, atau VIP. Mereka juga tidak mengindeks Garuda, Neliti, atau SINTA, tidak mengindeks repositori institusi universitas di Asia, dan tidak mengindeks jurnal OJS Indonesia — tempat sebagian besar penelitian empiris lokal dipublikasikan.
Inilah bagian yang tidak nyaman: literatur yang paling perlu Anda kutip untuk penelitian tentang pasar dalam negeri justru literatur yang tidak terlihat oleh pencarian umum. Pembimbing di negara tujuan mengharapkan rujukan seperti itu. Satu kali pencarian di Scholar tidak akan menghasilkannya.
Semakin tajam kueri yang Anda tulis, semakin besar peluang hasilnya hanya berisi tautan yang tak berguna. Sumber seperti itu hanya bisa dijangkau lewat peta: mengetahui indeks mana di negara mana yang memuat bidang yang sedang Anda teliti, dan institusi atau seri jurnal mana yang menerbitkannya. Keputusan untuk diindeks ada di tangan penerbit dan urusan database itu sendiri. Jurnal yang terbit di Hanoi atau Bangkok sering tidak terlihat dari pencarian yang berjalan sepenuhnya dalam bahasa Inggris, dan dinding pembayaran atau lisensi nasional bisa membuatnya tak terjangkau meski Anda tahu judulnya persis. Literaturnya ada. Indeksnya tidak.
Tiga lapis, bukan satu kotak pencarian
WriterOne memperlakukan pencarian sumber sebagai masalah perutean dan membaginya menjadi tiga lapis:
- Sumber bahasa asli negara target: universitas elit, jurnal inti, dan lembaga otoritatif negara yang Anda teliti, dicari dengan bahasa lokal.
- Jalur literatur berbahasa Inggris: universitas terkemuka di Amerika Serikat dan Eropa plus jurnal inti SSCI, yang memasok teori dan perbandingan antarnegara.
- Basis data jurnal nasional: indeks lokal yang tidak dicakup pencarian umum.
Ketiga lapis dicari terpisah, dan setiap hasil menyimpan catatan lapis mana asalnya. Klaim tentang perilaku konsumen Indonesia dan klaim tentang teori e-commerce tidak pantas memakai jenis sumber yang sama, dan keduanya tidak boleh ditulis seolah-olah berasal dari sumber yang sama.
Tinjauan literatur bukan sekadar daftar bacaan. Ulasan kritis di dalamnya hanya bermakna bila bertumpu pada sumber yang benar-benar dihasilkan pasar tersebut.
Jangkauan: yang benar-benar dibuka tiap negara
Angka berikut adalah volume yang dapat diakses per negara, dengan urutan tetap universitas / jurnal / lembaga:
- Tiongkok: 227 / 16 / 20 — CNKI, Wanfang, VIP.
- Indonesia: 138 / 14 / 20 — Garuda, Neliti, SINTA.
- Vietnam: 128 / 14 / 13 — pustaka jurnal nasional VJOL.
- Thailand: 127 / 14 / 13 — pustaka jurnal nasional ThaiJO.
- Malaysia: 142 / 12 / 14 — badan statistik, bank sentral.
- Filipina: 141 / 11 / 13 — bank sentral, badan statistik.
- Singapura: 148 / 12 / 13 — badan statistik, otoritas moneter.
- Jepang: 146 / 11 / 13 — Bank of Japan, statistik Kementerian Dalam Negeri.
- Korea Selatan: 142 / 11 / 11 — lembaga Tier-1 global.
- Amerika Serikat: 130 / 15 / 12 — Federal Reserve, statistik federal.
- Britania Raya: 135 / 11 / 12 — badan statistik nasional.
- Jerman: 142 / 11 / 12 — badan statistik nasional.
- Prancis: 141 / 14 / 12 — bank sentral, pustaka nasional.
- Australia: 148 / 12 / 13 — bank sentral, badan statistik.
- Jalur kedua bersifat bersama: universitas terkemuka di Amerika Serikat dan Eropa plus jurnal inti SSCI.
Empat belas angka itu dibaca berdampingan, dan selisih di antaranya persis menggambarkan bentuk masalahnya: jangkauan Tiongkok paling lebar bukan karena literatur berbahasa Inggrisnya paling banyak, melainkan karena ia sekaligus memiliki ekosistem jurnal domestiknya yang terbesar; jumlah perguruan tinggi Singapura dan Australia ada di papan atas karena daftar putih masing-masing memuat 30 perguruan tinggi terverifikasi; angka Vietnam dan Thailand berdekatan karena skala perguruan tinggi kedua negara mirip, dan volume pustaka jurnal domestiknya juga mirip. Angka-angka ini juga bukan tolok ukur "cukup atau tidak" — yang mereka ukur bukan berapa banyak literatur yang Anda perlukan, melainkan berapa banyak pintu yang akan Anda temui setelah pintu pertama terbuka.
Prinsip: gerbang, arsip, corong
Pertama, gerbang daftar putih. Setiap sumber membawa lapis dan alasan penerbitannya. Tidak ada entri yang berhenti pada "sumber berkualitas tinggi"; alasannya ditulis, karena alasan yang tidak bisa diperiksa bukan alasan.
Kedua, arsip. Setiap string pencarian disimpan bersama tahapannya, jenis sumber, bahasa, jumlah hit mentah, dan jumlah yang dipertahankan. Setiap catatan yang dikeluarkan menyimpan alasan pembuangan: halaman indeks, bukan artikel; panjang naskah penuh di bawah ambang; judul duplikat; tidak masuk daftar putih. Saat pembimbing bertanya kenapa makalah ini tidak masuk tinjauan Anda, jawabannya satu baris dalam berkas, bukan ingatan. Arsip ini bukan pelengkap di akhir proyek; justru arsip yang membuat tinjauan dapat direproduksi orang lain.
Ketiga, corong. Corong penyaringan PRISMA mencatat setiap langkah dan alasan pembuangan pada langkah itu, satu per satu. Berapa yang tersisa setelah duplikat dihapus, berapa yang gugur pada judul, berapa yang naskahnya tidak bisa diakses, berapa yang metodenya tidak cocok — setiap angka bisa ditelusuri ke catatan di belakangnya. Unekapan yang bisa dihitung ulang itulah yang membedakan tinjauan yang dapat dipertanggungjawabkan dari tinjauan yang hanya tampak rapi.
Kesimpulan: pertanyaan pertama adalah "di mana mencari"
Kebanyakan orang memulai tinjauan literatur dengan string pencarian. Itu pertanyaan kedua. Pertanyaan pertama: di mana sebenarnya literatur pasar yang Anda teliti tinggal, dan jawabannya adalah daftar putih yang Anda rawat sendiri, bukan setelan bawaan yang Anda warisi.
String pencarian tidak menutup titik buta. Peta sumber yang menutupnya. Dan peta itu pun bukan warisan: itu daftar yang harus Anda rawat sendiri, negara demi negara, mengikuti perubahan institusi dan indeks di tiap pasar.